green_5

Pemanasan Global Mempengaruhi Penyebaran Nyamuk

Menurut penelitian yang pernah dilakukan di kawasan temperate, pemanasan global dapat meningkatkan sebaran nyamuk dan mereduksi ukuran larva dan ukuran dewasanya, akibatnya nyamuk dengan perawakan dewasa yang kecil akan menggigit lebih sering untuk mengembangkan telurnya. Selain itu temperatur yang hangat dapat membangkitkan pemakanan dua kali (double feeding) yang dapat meningkatkan kesempatan penularan yang lebih banyak.

Informasi mengenai pemanasan global yang dirilis oleh majalah Nature (February, 2004) mengungkapkan studi ilmuwan yang mempelajari enam kawasan di dunia yang merupakan lahan daratan dan memproyeksikan 1.103 spesies binatang dan spesies tumbuhan. Menurut laporan itu, sebagai akibat pemanasan global, ada beberapa spesies mempunyai kemampuan untuk secara sukses menyebar atau bergerak pada kawasan yang berlainan, hal itu terjadi atas upaya spesies itu menghindar dari perubahan iklim yang mengakibatkan kepunahan.

Secara tidak langsung analisa ini menekankan kepada kita bahwa penggundulan hutan yang mengakibatkan pemanasan global dan perubahan iklim merupakan dampak tidak langsung mewabahnya demam berdarah. Oleh karena itu pemberantasan penyakit demam berdarah, seharusnya bukan lagi menjadi isu lokal, yang harus menyadarkan kebijakan mengenai penanganan lingkungan hidup yang benar, tapi juga isu regional bahkan isu global yang harus ditanggulangi bersama oleh masyarakat dunia.

05d9685e274ca4a53fe5cde5fc75d1e7

Dampak Pembakaran Sampah terhadap Kesehatan

Membakar sampah justru menimbulkan masalah baru khususnya bagi kesehatan kita. Saat membakar sampah dalam tumpukan, tidak terjadi proses pembakaran yang baik. Pembakaran yang baik adalah dengan membutuhkan Oksigen (O2) yang cukup. Berbeda saat membakar tumpukan sampah, mungkin bagian luar tumpukan cukup mendapatkan Oksigen sehingga menghasilkan CO2, tapi di dalam tumpukan sampah akan kekurangan O2 sehingga yang dihasilkan adalah gas Karbon Monoksida (CO) yang merupakan gas yang berbahaya, karena dapat membunuh kita secara massal. Bila kita menghirup gas CO, hemoglobin darah yang seharusnya mengangkat dan mengedarkan oksigen ke seluruh tubuh akan terganggu. Dengan begitu, tubuh akan mengalami kekurangan Oksigen, yang dapat berujung kematian.

Hidrokarbon berbahaya yang dihasilkan asap pembakaran sampah, termasuk senyama penyebab kanker yaitu benzopirena yang mencapai 350 kali lebih besar dari asap rokok. Efek jangka panjangnya kita bisa terjangkit kanker paru-paru, infeksi paru-paru, asma, atau bronkitis.

Gas yang dihasilkan dari pembakaran sampah juga dapat merusak atmosfer bumi. Gas tersebut adalah senyawa chlor, yang dihasilkan dari pembakaran plastik. Pembakaran bahan sintetis yang mengandung nitrogen, seperti nilon, busa poliuretan yang ada sofa atau karpet busa, juga membahayakan karena dapat menghasilkan gas HCN yang berbahaya.

Membuang sampah pada tempatnya memang belum cukup. Proses dalam menghancurkan sampah justru lebih rumit. Sehingga pada dasarnya, kita pun perlu mengurangi sampah, terutama sampah-sampah yang sulit terurai. Mengurangi konsumsi, memaksimalkan produk yang bisa digunakan berkali-kali daripada yang sekali pakai.